Selasa, 21 Februari 2017

Khalisa Qisha : Teruntuk Mereka Yang Ditinggalkan


Nothing can replace the loss of the loved one, but live must go on and sometimes we should live for others

Sore itu menjelang azan Magrib berkumandang rona jingga sunset sangat indah diluar sana. Setidaknya itu yang mampu ku indera dari lantai 3 Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta, disebuah ruangan yang bagian baratnya berdinding kaca mungkin, memang sengaja didesain demikian agar dapat menikmati senja indah seperti hari itu tanggal 15 Februari 2017. Yah.. dengan bergantinya hari, dengan terbit dan tenggelamnya matahari selalu ada kisah baru yang akan kita temui, entah suka, duka, tangis, bahagia,kebersamaan ataupun perpisahan.

***

Beberapa waktu terakhir ini disela-sela waktu kuliahku selalu ku sempatkan untuk mengunjungi keponkanku yang sedang dirawat dirumah sakit tersebut. Gadis kecil dan kuat berumur 3 tahun 4 bulan  di bangsal khusus luka bakar ini bernama Khalisa Qisha R Putri. Perjuangan gadis kecil nan tangguh ini menjadikan ku berfikir betapa sering mengeluhnya kita dengan apa yang kita miliki saat ini, betapa tidak bisanya kita untuk bersabar dalam menjalani ujian yang diberikan oleh Allah SWT. 

Qisha panggilan sayang gadis cantik berhidung mancung ini, dia mengalami luka bakar seluas 75% dari muka hingga lututnya. Keberadaanya didaerah yang pelayanan kesehatannya terbatas, mengharuskan dia dirujuk dari salah satu RS yang berada di Bintuni, Papua barat ke kota Yogyakarta lebih tepatnya RS Panti rapih tepat setelah 10 hari musibah itu menimpanya, namun karna keterbatasan alat untuk penanganan luka bakar adik cantikku harus di rujuk ke RS Sardjito untuk penanganan lebih lanjut.

"Qisha" aku mengenalnya, tau namanya saat ia pertama kali dirujuk ke kota gudeg ini lebih tepatnya hari Selasa tanggal 07 Februari 2017 di RS Panti rapih. Hari itu aku masih asing dengannya yang dibalut perban dan hanya mampu menangis lirih. Hari itu pertama kali ayah dan ibunya memperkenalkan putrinya kepadaku. Qisha dan aku masih terbilang saudara dekat, ayahnya adalah sepupuku. Ia yang terbaring diruang IGD khusus ibu dan anak  hanya mampu menatapku dan sesekali minta minum. Teh kotak adalah minuman favoritnya. Luka bakar yang ia alami mungkin menyebabkan ia lebih sering merasa haus. Tak heran jika urine bag nya cepat penuh.

Wajahnya saat itu ditutupi luka berwarna hitam kecoklatan yang mulai mengering. Luka bakar yang menutupi 75% dari badan mungilnya benar-benar telah sukses menjilati wajah cantiknya. Kondisinya saat itu melemah, mungkin karna perjalanan jauh yang ia tempuh menuju Yogya, guncangan di pesawat yang ia rasa dan rasa nyeri dari luka yang ia derita.

"Allahumma Rabbannasi adjhibilba'sa isfi antasyafi , laa syifaa'a illasyifauka syifaa'a laa yugaadiru saqoma"

"Ya Allah Tuhan manusia, hilangkanlah penderitaan. Sembuhkanlah, Engkaulah yang Maha Penyembuh, tidak ada penyembuhan kecuali dari Engkau, penyembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit sama sekali"

Hanya doa itu yang bisa kuberikan untuknya saat ini.

Hari itu ku menahan sesak dan hanya bisa membatin "Ya Allah bagaimana mungkin anak sekecil ini mampu menahan sakit dengan luka disekujur badannya jika bukan karna kekuatan dari-Mu".

Hari itu sebagai awal perkenalan kami kuajak dia bercerita, bercerita apasaja padanya namun ekspresinya tetap sama hanya menangis lirih dan menatapku. Hari pertama perkenalan kami kulihat ia merasa risih degan luka dibagian wajahnya yang sudah mulai mengering dan itu membuat gatal. Spontan tangan kirinya yang masih bisa digerakkan selalu menggaruk bagian hidungnya dan menjadikan luka baru. Alhasil malam itu kami hanya bisa menahan tangannya dan menjaga ia tidur. Hari itu masih ku ingat permintaan pertamanya ia ingin makan agar-agar. Seandainya ia datang dalam keadaan sehat, pastilah ku ajak serta ia untuk memilih agar-agar yang ia mau. Sayangnya keadaannya berbeda kali ini.

Empat hari ia dirawat di RS Panti Rapih dengan kondisinya yang belum benar-benar stabil dan pertimbangan medis lainnya serta kurangnya alat untuk dilakukan proses bedah jadilah ia dirujuk ke RS Sardjito. Hari itu kembali kubertemu dengannya masih diruang yang sama IGD namun Rumah sakit yang berbeda. Hari itu untuk pertama kalinya ia memanggilku "Tante Eka". Mata bulatnya hari itu lebih jelas terlihat. Luka dibagian dahi dan kelopak matanya sudah mulai mengelupas. Hidung mancungnya mulai terlihat walaupun masih tertutupi luka.

Masih sangat jelas sore itu waktunya perban yang membaluti badannya diganti. Aku ada disana, tepat disampingnya. Ya Allah anak sekecil itu harus menanggung sesuatu yang orang dewasa belum tentu bisa menghadapainya. Dengan perban yang dibuka dan diolesi obat luka ia hanya mampu menangis, merintih memangilku "Tante eka dingin, tante eka dingin.... tante eka sakit, tante eka..." berulang-ulang keluhan itu ia sampaikan. Ya Allah suara lirih gadis kecil itu, suara kesakitannya, Aku hanya bisa mengelus kepalanya, berkata "Qisha anak kuat, anak baik, Qisha yang sabar, sebentar lagi dokternya selesai ngasih obat". Aku paham ruangannya memang dibiarkan dingin agar bakteri dan kuman dilingkungan sekitar tidak mudah masuk dan berkembang.

Ya Allah miris, Aku tau betapa sakitnya yang ia hadapi, dan apa yang bisa kulakukan hanya mampu menguatkannya menyuruhnya menggengngan tanganku,membantu meluruskan tangannya agar dokter dengan mudah membalutnya. Berjanji padanya setelah ini, akan memakaikan sarung bali kesukaannya, memberinya minum teh kotak kesukannya. Mengelus rambut ikalnya dan berbisik "Qisha dikasi obat biar cepat sembuh, biar bisa jalan-jalan sama tante eka ke candi, naik odong-odong, yah ?". Yah tapi apa perduli anak sekecil itu, hanya menangis yang ia bisa, hanya sakit yang ia rasa. Menyuruh ayahnya membawa gergaji buat memotong siapapun orang yang menganggunya sekarang. Ayahnya hanya bisa membuatkan balon dari Handscoon di ruang IGD, menggambarkan mata dan garis senyum, setidaknya mengurangi tangisnya setelah diperban. Setelah semuanya selesai aku duduk disampingnya, dia masih tetap menggenggam tanganku, Kuputarkan video upin dan ipin dari youtube. Kata ibunya sewaktu Qisha sehat  dia selalu menyanyikan lagu upin dan ipin sambil tertawa riang. Tapi kali ini situasinya memang berbeda, tidak kudengar suara riang itu, hanya suara segukan ia setelah menangis. Qisha hanya bisa melihat video yang kuputar dan tidak lama berselang ia tertidur.

Jam 03.00 dini hari ia dipindahkan dari IGD keruang perawatan khusus luka bakar. Ia ditempatkan diruangan yang luas. Aku semakin sering mengunjunginya. Melihat perkembangannya, bagaimana luka diwajahnya berangsur-angsur pulih, hidung mancungnya semakin nampak jelas. Bola matanya yang bundar sangat jelas aura kecerdasannya. Dia semakin sering mananyakan tante eka  dan tante sendy saat kami tidak mengunjunginya. Kata ibunya Qisha sekarang banyak makan, makin sering minta minum. sering ngajak ngobrol suster jaga, nyuruh ayah dan ibunya sholat. Dia mulai rewel kalau mau buang air besar, mungkin karna setelah itu perbannya dibersihkan dan underpad yang mengalasi bokongnya diganti membuat dia risih dan merasa kesakitan karna badannya harus sedikit diangkat.

Apapun itu, kondisinya perlahan membaik dari hari-hari sebelumnya. Meskipun sering tiba-tiba kondisinya melemah, suhu badannya tiba-tiba naik sampai 39,7 derajat mungkin karna infeksi dari lukanya. Alhasil operasinya ditunda menunggu kondisinya benar-benar pulih. Disamping itu Qisha selalu diambil darahnya untuk cek darah rutin. Kakinya sampai bengkak karna terlalu sering diambil darah. Tangan Qisha tertutupi luka sehingga tidak mungkin mengambil darah dari tangannya. Setiap akan ditusuk jarum sebisa mungkin kami mengalihkan perhatiannya, menyalahkan semut tajam yang hampir setiap hari menggigitnya tanpa ampun. Dengan polosnya Qisha selalu meminta ayahnya dengan dialeg khas Papuanya untuk mengambil gergaji buat motong semut, berteriak keras kearah dokter yang sedang bertugas mengolesi obat ke lukanya. Anak ini emang banyak ngomong, dengan logat Papuanya yang kental, Qisha sudah dikenal oleh suster dan perawat di bangsal luka bakar ini. Pasien yang suka minum teh kotak, Adik dari Papua, dan sebutan lainnya.

***
Rabu, 15-02-2017

Sudah ku sebutkan diawal tulisan ini, suasana hari itu sangat indah. Senja yang indah. Dari lantai 3 rumah sakit ini bisa kuindera burung beterbangan dari satu pohon kepohon lainnya. Aktifitas satu.. dua .. motor atau mobil masuk dan keluar dari tempat parkir, mungkin mereka sama seperti kami keluarga pasien yang datang berkunjung.

Hari itu wajah dek Qisha udah mendingan, mukanya cerah, perbannya baru diganti, seperti biasa dia selalu ngamuk kalau udah diganti perbannya. Saat datang ibunya langsung cerita kalau dia nanyain tante eka sama tante sendy. Hari itu Qisha banyak berceloteh, minta naik odong-odong kalau nanti udah sembuh, aku juga udah janji bakal ngajak dia ke Yogya Bay tempat main yang seru buat keluarga. Dia juga minta dibeliin kerudung warna pink sama hijau sama aku, permintaannya ini udah disampaiin dua hari yang lalu tapi ngak tau kenapa lupa terus buat mampir beliin dia kerudung.

Saat senja yang indah itu juga Qisha si gadis kecil itu berbicara melalui telpon dengan ibuku, "nenek haji" panggilnya untuk ibuku. Setelah beberapa saat bercerita Qisha terdiam mungkin dia mulai lelah dan ingin minum. Setelah telpon diakhiri aku mulai bercerita lagi dengannya menunjukkan foto nenek dan kakek hajinya saat di candi prambanan dan borobudur. Berjanji padanya akan mengajaknya kesana, melihat gajah, berkeliling naik kereta wisata dan keseruan lainnya. Saat itu dia hanya terdiam menatapku.

"Nanti kalau Qisha udah sembuh kaka eka ajak main ke borobudur ya ?"

Diam. Dia hanya terdiam dan menatapku

"Qisha tidak mau ke borobudur ? kita main odong-odong aja ya ? nanti Qisha pilih sendiri mau lagu apa.. Qisha mau kan ?"

Kali ini dia terdiam lagi.. "Tante eka mau minum teh kotak" ucapnya kemudian.

Setelah memberinya minum, bernyanyi, sempat sholat diruangannya. Saat sholat tidak sengaja suara lirihnya terdengar.

"Mama, tante Eka sholat ?  Mama sama bapak juga sholat"

"Iya sayang, tante eka sholat, Qisha mau mama sholat ? Nanti anakku setelah tante eka, mama sholat".

Tuhan kuatkan dia, Beri yang terbaik untuk nya lirihku dalam doa.

Beberapa saat setelah adzan isya aku dan sendy pamit untuk pulang. Rasanya cukup hari ini waktunya Qisha istrahat. Sebelumnya kami sempat selfie, menyuapinya kue tar yang aku bawa dari kos. Sebelum pulang sempat ku berbisik padanya "Qisha kurang dari sebulan Qisha pasti udah bisa duduk, nanti besok kaka eka datang lagi, okay ?" 😊😊😊😊

Sebuah foto yang membekukan suasana senja itu


**
16-02-2017

Adzan subuh berkumandang. Aku tak tau apa rencana Allah dipagi hari itu.
Dingin menusuk persendianku pagi itu.
Kutarik lagi selimutku, bergeliat diatas kasur yang tak bisa kusebut empuk.
Saat itu tepat pukul 05.15 salah satu malaikat Allah telah selesai menjalankan tugasnya.

**
Panasnya mendadak tinggi sekitar pukul 02.00 dini hari. "Panas tinggi" orang awam biasa menyebutnya. Ayahnya yang ketika itu berada disampingnya, mencoba memberi Qisha sendok untuk digigit sebelum memanggil bantuan. Setelah masa kritisnya berakhir ayahnya tertidur disampingnya. Sebelum itu Qisha sempat meminta untuk mengusir orang yang datang kepadanya.

"Bapak suruh orang itu pergi,Qisha takut..."

Padahal saat itu hanya ada dia, ayah dan ibunya.

Sempat tertidur 15 menit disamping Qisha. Ibu dan ayahnnya terbangun mengelus-elus kepala putri kesayangannya.

"Mama, Qisha sudah capek, kita pulang saja kerumahnya Qisha di kampung lama, Qisha mau naik motornya Qisha sama mama, sama bapak"
"Sakit mama"
"Mamaku qisha sudah lama tidak baca doa makan"

ibunya hanya terisak, tidak lama terdengar lirih suaranya

"Bismillahirahmanirrahim, Allahumma bariklana fima razaktana wa kina azabannar"

"Tapi Qisha juga sudah lama tidak baca doa buat mama sama bapak"
"Allahummagfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shagiro"

Ibunya hanya bisa menatap sambil terisak, serta berkata Qisha baca al-fatihah juga anakku...
Ayahnya hanya bisa terdiam, memegang tangan putrinya yang mulai terasa dingin..

"Mama Qisha capek, Qisha mau nyanyi saja, mana tante ekaku sama tante sendy ?"

Tidak lama berselang Ia benyanyi beberapa lagu yang ia hafalkan.

Hanya butuh waktu sepersekian detik, setelah lagu terakhirnya...

Masa kritis itu terulang lagi, Suhunya naik, Nadi dan tekanan darahnya menurun... Nafasnya seperti  tertahan... perawat dan dokter sudah melakukan upaya penyelamatan namun nihil tidak ada perubahan, segala upaya sudah dilakukan  hingga intubasi dan kompresi dada sudah dilakukan.

"Allah...Allah...Alllah...Allah...Allah..Allah"

Dengarlah Ya Allah, gadis kecil ini memanggilmu,

 "Allah... Allah.... Allah..."

Suaranya semakin lirih dan semakin terdengar seperti berbisik. Hingga akhirnya sehelai daun di Lauful magfuz telah gugur saat itu.

**
Handphoneku  berdering ada sms masuk

"Eka datang ke rumah sakit, Ade Qisha sudah meninggal"

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Izinkan ku menangis ya Allah, terlalu cepat semua ini terjadi. belum sempat ku mengajaknya berwisata di kota istimewa ini. Belum sempat ku memberinya kerudung pink dan hijau yang ia minta. Masih banyak hal yang ingin ku lakukan dengannya.

Percayalah disaat seperti ini kau akan mengharapkan sebuah mukjizat.
Percayalah disaat seperti ini sulit untukmu untuk ikhlas.
Persilahkan diri ini bersedih...


Pagi itu jalanan Yogja masih sepi, belum terlihat kesibukan pelajar jogja yang memadati jalan raya. Situasi jalan yang tidak padat memudahkanku sampai dengan cepat didepan gedung rumah sakit ini. Sendy temanku saat itu kami buru-buru menuju ruangan tempat biasa ia di rawat. Hanya tatapan kosong yang kubisa sepanjang jalan menuju tempat ini.

Sudah coba ku tahan air mata itu ya Allah, Namun gagal, lihatlah wajah yang biasanya tersenyum menyambutku saat datang menjenguknya kini tertutupi kain hijau diatas tempat tidur yang menjadi tempat favoritku untuk duduk disampingnya.
Tangan yang biasanya menggenggamku, kini tergeletak kaku, tidak ada lagi suara rengekannya yang meminta teh kotak.
Hari itu malaikat-Mu telah menjalankan tugasnya dengan baik ya Allah.
Kepergiannya begitu tenang.
Berilah tempat terindah di sisi-Mu ya Rabb.
Kurang lebih 19 hari ia menahan sakit semenjak musibah itu menimpanya.
Jika memang ini cara terbaik untuknya, Berilah juga kebaikan pada kami yang ditinggalkan.

Khalisa Qisha R. Putri gadis manis yang kini tengah menghadap-Mu ya Rabb. Sampaikan salamku untuknya..

**
Pesawat yang akan menerbangkan Mayitnya sedang diurus,bersamaan dengan persiapan memandikan dan mengkafani Qisha.
Qisha nama yang telah ku kisahkan ditulisanku kali ini. Qisha gadis kecil dari papua yang membawa cerita tersendiri untuk perjalanan ku di kota Istimewa ini.
Kedatangannya di kota ini mungkin ingin bersama denganku, Selalu ada misteri Allah untuk kita.

Hari itu aku dan ibunya membantu pihak rumah sakit memandikan mayitnya, mengkafani dan menyolatkan di ruangan khusus yang telah disediakan pihak rumah sakit.
Hari itu, Lantunan ayat Al-Quran begitu indah terdengar dari Surau Masjid.
Hari itu tidak ada lagi rasa sakit yang harus ia rasakan.
Kepergiannya dengan tenang, menjadi bekal untuk ibu dan ayahnya.
Hari itu juga tanggal 16-02-2017 pesawat yang membawanya terbang ke Papua berangkat pukul 20.00.
Selamat jalan Khalisa Qisha R. Putri, we love you...

***
Bersedih wajar, Menangis juga wajar
Tetapi, apakah wajar jika egois dengan kesedihan kita ?
sehingga kita lupa mendoakan dia yang kita kasihi,
yang telah lebih dulu dipanggil oleh-Nya.

Haturkan doa yang terbaik untuk dia yang tersayang,
semoga dia mendapat kebahagiaan yang jauh lebih sempurna
dari yang selama ini kita bisa berikan kepadanya.
Semoga setiap derita dan sakitnya menjadi penebus dosa-dosanya.

Buat dia bangga karna memiliki kita yang selalu berbuat baik untuknya.
jangan jadikan kepergiannya sia-sia.
tapi jadikan pelajaran dan hikmah.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar